Wasekjen DPP Partai Hanura, Tri Dianto, menilai komposisi tujuh staf khusus (stafsus) Presiden Indonesia Joko Widodo (Joko Widodo) yang berlatar belakang milenial tidak proporsional.
"Hanya memang agak kebanyakan. Terlalu banyak untuk mewakili kelompok milenial. Tujuh orang staf khusus milenial. Jadi ya kesannya tidak khusus lagi. Staf yang agak umum," kata Tri kepada Okezone, Jakarta, Minggu (24/11/2019).
Selain itu, kata Tri, perwakilan tujuh generasi muda di lingkaran Istana itu tidak mewakili golongan kaum rakyat kecil di Indonesia.
"Kalau boleh kritik sedikit, staf khusus yang mewakili milenial miskin dan dari desa tidak ada. Padahal kan milenial dari desa kan jumlahnya besar. Tapi yarapopo-lah. Terserah Pak Jokowi saja," ujar Tri.
Namun, Tri menekankan, agar publik memberikan kesempatan kepada tujuh milenial itu untuk membuktikan dapat membuat gebrakan baru demi kemajuan bangsa Indonesia.
"Apalagi kan ada yang masih 23 tahun umurnya dan ternyata anaknya Pak Chairul Tanjung. Tapi kita harus beri kesempatan mereka bekerja membantu presiden. Semoga bisa bekerja baik dan berguna. Kita berbaik sangka saja," ucap Tri.
Di sisi lain, Tri meyakini bahwa di balik keputusan Jokowi menunjuk tujuh pemuda itu menjadi stafsus pasti memiliki agenda dan alasan yang kuat.
"Ya itu sih terserah Pak Jokowi. Kan kewenangan presiden. Pasti Pak Jokowi punya pertimbangan sendiri," tutur Tri. (okezone)
