PKS ancam tarik dukungan pada Prabowo dan Sandiaga Uno bila tak diberi kursi wagub DKI
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto disebut mengetahui intimidasi yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pasalnya, tindakan itu dilakukan di hadapan Prabowo saat tengah mendaftar sebagai capres 2019.
PKS mendesak Ketua DPD Gerindra DKI, Mohammad Taufik untuk menandatangani surat kesepakatan. Isi surat kesepakatan itu menyatakan bahwa Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera dan Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Nurmansyah Lubis yang akan menjadi pengganti Wagub Sandiaga Uno.
Tidak hanya itu, PKS juga sempat mengancam akan menarik dukungan pada Prabowo dan Sandiaga Uno bila tak diberi kursi wagub DKI. Atas pertimbangan itulah Taufik meneken surat tersebut. Menurut Taufik, Prabowo agak marah saat itu.
“Saya melakukan (menandatangani surat) itu di depan Pak Prabowo. Menurut saya dia agak marah dengan yang menyodorkan itu,” kata Taufik di Program Primetime News, Jakarta, Sabtu, 25 Agustus 2018.
Taufik menyampaikan, Prabowo sedikit geram lantaran PKS seolah tak percaya pada Gerindra. Lagi pula, tindakan PKS dinilai tidak etis.
“Waktunya tidak tepat. Kenapa mesti saat itu dan di KPU. Padahal, proses pengunduran diri Sandiaga masih panjang,” ungkapnya.
Senin, 27 Agustus rapat paripurna pengunduran diri Sandiaga Uno baru digelar. Setelah itu, kedua partai pengsung dipersilakan menyodorkan nama calon pengganti Sandiaga.
“Senin kita menggelar rapat paripurna, membacakan pemberhentian Sandi lalu diajukan ke Presiden kemudian ke Kemendagri,” pungkasnya. (dmr)
